Resensi
Pengertian Resensi
Resensi
berasal dari bahasa Belanda resentie dan bahasa Latin recensio, recensere atau
juga revidere yang artinya mengulas kembali. Resensi adalah
suatu penilaian terhadap sebuah karya. Karya yang dinilai dapat berupa buku dan karya seni film dan drama.[2] Menulis
resensi terdiri dari kelebihan, kekurangan dan informasi yang
diperoleh dari buku dan disampaikan kepada masyarakat.
Manfaat Resensi
1.
Bahan pertimbangan
Memberikan
gambaran kepada para pembaca tentang suatu karya dan mempengaruhi mereka atas
karya tersebut.
2.
Nilai ekonomis
Mendapatkan uang atau imbalan
serta buku-buku yang diresensikan secara gratis dari penerbit buku apabila
resensinya dimuat di koran atau majalah.
3.
Sarana promosi buku
Buku yang
diresensikan adalah buku baru yang belum pernah diresensi. Dengan demikian, resensi
merupakan media untuk mempromosikan buku baru tersebut.
4.
Pengembangan Kreativitas
Semakin
sering menulis, maka semakin terasah kebiasaan menulis untuk setiap individu. Hal
ini dilakukan untuk mengembangkan kreativitas menulis.
Sistematika Resensi
1.
Pendahuluan
·
Identitas Buku
·
Judul, Judul Asli, Penulis,
Penerjemah, Tahun Terbit, Penerbit/Kota, Jumlah halaman
2.
Isi Resensi
·
Uraian Singkat Isi Buku
·
Bukti pemahaman Penulis Resensi terhadap
isi buku
3.
Komentar
·
Ulasan penulis dalam menganalisis,
menarik inferensi, dan menilai sumber yang dibacanya
4.
Simpulan
·
Simpulan tentang buku yang dibaca
atau implikasi terhadap studi yang ditekuninya
5.
Penilaian
·
Memutuskan Baik-Buruk buku itu
dibaca oleh siapa/kalangan mana.
·
Tunjukkan kelebihan & kekurangan
buku dengan tanggung jawab
Contoh:
Judul :
Koala Kumal
Penulis :
Raditya Dika
Tanggal Terbit : 17 Januari 2015
Penerbit :
Gagas Media
Tebal Halaman : 250 halaman
Proses berubah
menuju kedewasaan adalah hal yang lumrah bagi penulis. Perubahan itu bakal
terasa kepada pembaca setia yang memang dari awal mengikuti karya sang penulis.
Reaksinya pasti bermacam-macam, ada yang makin nge-fans pada sang penulis, tapi
kebanyakan yang terjadi adalah kecewa berat dan malah mencaci maki pada
penulis. Biasanya ini terjadi kepada penulis yang karya perdananya langsung
meledak. Persis seperti yang terjadi di ranah musik. Mungkin anda sudah tahu
bahwa yang saya maksud adalah Arctic Monkeys. Perubahan drastis yang dibuat
mereka pada album AM malah membuat nama mereka semakin harum. Apakah Raditya
Dika termasuk dalam kategori sukses instan pada karya perdana? Jelas. Kambing
Jantan menggebrak dengan menawarkan sesuatu yang beda; komedi kasar yang
merupakan adaptasi langsung dari blognya Raditya Dika. Tapi, apakah Koala
Kumal-nya Raditya Dika bisa menjadi seperti AM-nya Arctic Monkeys?
Raditya Dika, yang
akrab disapa Dika, akhirnya merilis buku ketujuhnya yang berjudul Koala Kumal.
Ini merupakan hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh penggemarnya, karena sudah
tiga tahun dia absen menulis buku. Di tiga tahun terakhir, dia disibukkan oleh
proyek serial populer Malam Minggu Miko dan film dari adaptasi novel-novelnya,
dimana dia berperan sebagai penulis skenario, pemain, sekaligus sutradara.
Kenapa diberi judul
Koala Kumal? Di bab terakhir, Dika menjelaskan tentang patah hati. Tentang
orang yang dulunya saling memberi rasa nyaman, namun saat bertemu lagi perasaan
itu sudah berubah total. Persis seperti seekor koala yang bermigrasi dari hutan
tempat tinggalnya, namun saat kembali koala itu kebingungan karena hutan yang
pernah jadi rumahnya habis dibabat manusia. Karena itulah, buku ini diberi
judul Koala Kumal. Mayoritas isinya bercerita tentang patah hati, tentang rasa
yang pernah ada, dan tentang kenyamanan yang punah ditelan cinta yang baru.
Koala Kumal sedikit
lebih tipis dibandingkan buku sebelumnya, Manusia Setengah Salmon. Selain
kembali menggunakan judul binatang, kali ini pun Dika meneruskan konsep ‘Komedi
Pakai Hati’ miliknya. Kedewasaan dan kematangan pun semakin terlihat disini. Struktur
bahasa pun semakin rapi. Jelas saja, dengan usia yang sudah menginjak 30 tahun,
Raditya Dika berangsur-angsur menghilangkan kata-kata kasar dan tidak baku
seperti yang biasa ditemukan di buku-buku sebelumnya. Sebenarnya tidak penting
membicarakan struktur bahasa dalam sebuah buku komedi. Namun, perbedaan itu
semakin jelas. Sangat berbeda jauh dengan Kambing Jantan, buku pertama Dika
yang sangat slengean dan hancur-hancuran, dalam segi bahasa.
Namun, apakah
dengan patah hati sebagai tema utama dan kedewasaan membuat Koala Kumal tidak
lucu lagi? Justru disitulah, kepiawaian Dika bekerja. Lucu tidak harus dengan
komedi kasar. Komedi pakai hati pun bisa, begitulah prinsip Dika. Dan memang
terbukti benar. Anda tidak perlu khawatir dengan sense of comedy-nya Raditya
Dika bakal meluntur seiring dengan menuanya dia. Namun jangan harap komedi
Koala Kumal bakal serusak dan sekasar Kambing Jantan dan Babi Ngesot. Ini
serius.
Kesimpulannya, Koala
Kumal sangat layak untuk dibeli dan dibaca. Banyak pelajaran dapat kita petik
dari Koala Kumal, terutama bagi yang baru saja patah hati. Patah hati adalah
proses menuju kedewasaan. Sering patah hati tidak berarti kita harus putus asa
mengejar cinta. Cinta butuh perjuangan. Perjuangan itu adalah mempertahankan
kenyamanan.

Belum ada tanggapan untuk "Materi Resensi Kelas XI SMK"
Posting Komentar